Nelvarolina’s Blog

Early Childhood Education’s Share

Kasak-kusuk Agustus 13, 2008

Filed under: Curhat — nelvarolina @ 6:11 am

Semakin hari aku merasakan dunia kerja sangat kejam dan jauh dari bayanganku sebelumnya. Mungkinkah aku harus ikut sistem yang ada yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraniku?

 

KELUARGA: SUMBER BELAJAR Agustus 12, 2008

Filed under: PAUD — nelvarolina @ 7:46 am

Keluarga merupakan satuan atau unit terkecil dari besarnya komunitas masyarakat. Keluarga, terutama orang tua dapat dijadikan sumber belajar by utilization yang efektif bagi pembelajaran anak di rumah dengan menjadi model yang patut ditiru anak. Sesuai dengan teori sosial kognitif Bandura yang intinya adalah modeling melalui observational leraning-nya, keluarga yang menjadi model diharapkan mampu mendidik dan mengasuh anak sesuai karakteristiknya.

Pembelajaran yang diberikan di rumah oleh keluarga haruslah sinkron dengan pengalaman dan pelajaran yang diberikan di sekolah, terutama pada penanaman nilai. Misalkan di sekolah diajarkan ABCD, sedangkan di rumah diajarkan EFGH. Hal ini akan berakibat fatal bagi anak. Untuk itu harus ada komunikasi yang efektif antara pihak keluarga (orang tua) dengan pihak sekolah (guru).

Keluarga merupakan model bagi anak sehingga perlu perhatian khusus dalam bersikap. Anak akan lebih cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Maka keluarga (orang tua) yang menjadi model harus berusaha memberikan suasana belajar yang kondusif bagi anak, serta memberikan pelajaran dan pengalaman yang baik bagi anak.

 

Mengembangkan Anak Secara Menyeluruh

Filed under: PAUD — nelvarolina @ 7:43 am

PENDAHULUAN

            Masa keemasan pada manusia (golden age) terdapat pada masa kanak-kanak. Mengapa disebut masa keemasan? Hal ini dikarenakan masa ini merupakan awal dari segala perkembangan. Seharusnyalah masa ini mendapat perhatian khusus. Jika seorang manusia terhambat berkembang pada salah satu masa perkembangan, maka akan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Pemerintah dan masyarakat sudah mulai memperhatikan pendidikan anak usia ini, yaitu pendidikan anak usia dini (Early Childhood Education).

Anak usia dini memiliki karakteristik yang unik. Di usianya yang berkisar antara 0-8 tahun, mereka cenderung untuk bermain dan memiliki sifat egosentris. Bermain sendiri merupakan kebutuhan pokok mereka. Mereka sulit berkembang bila masa bermain mereka terhalang oleh seabrek kegiatan yang membuat mereka stress. Perlu diketahui bahwa tidak hanya orang tua yang dapat mengalami stress. Anak pun dapat mengalaminya.

            Kita dapat melihat bahwa anak usia dini yang di dalamnya termasuk usia Taman Kanak-kanak (TK) sering mengalami kelelahan ketika pulang sekolah. Hal ini dikarenakan tugas yang menumpuk. Anak TK sudah diajarkan calistung (baca tulis hitung). Ini lah yang membuat anak enggan ke sekolah. Mereka tidak bisa menikmati indahnya masa di TK, masa kanak-kanak mereka. Mengapa? Karena mereka kehilangan masa bermain mereka. Padahal dengan bermain perkembangan mereka akan lebih maksimal. Mungkinkah bermain sambil belajar?! Mungkin saja. Sebisa mungkin membuat anak belajar tanpa ia tahu bahwa ia sedang belajar.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Sebelum membahas lebih lanjut tentang pengembangan anak secara menyeluruh, mari sejenak menyimak satu bait lagu Taman Kanak-kanak di bawah ini:

 

            “Taman yang paling indah hanya taman kami

              Taman yang paling indah hanya taman kami

              Tempat bermain berteman banyak

              Itulah taman kami taman kanak-kanak”

 

Pada baris ketiga bait di atas, dikatakan bahwa TK merupakan tempat bermain, dan bukanlah tempat belajar. Mengapa bermain? Karena bermain merupakan hal yang ajaib bagi anak (anak berada dalam masa bermain). Rumini dkk (1993) megatakan bahwa anak memiliki beberapa sifat, yaitu: merupakan masa bermain, egosentrik, cara berpikir memusat (centralized), berpikir tak dapat dibalik (irreversible), dan berpikir terarah statis. Agar anak berkembang normal dan positif, maka perlakukan mereka sesuai tahap perkembangan dan karakteristiknya, di antaranya adalah jangan memalingkan mereka dari masa bermain mereka.

Menurut Tedjasaputra (2005), bermain merupakan wadah bagi anak untuk merasakan berbagai pengalaman seperti emosi, senang, sedih, bergairah, kecewa, bangga, marah dan sebagainya. Anak akan merasa senang bila bermain, dan banyak hal yang didapat anak selain pengalaman. Bermain dengan kata “bermain” memang menyenangkan. Itu pula sebabnya mengapa anak begitu unik dan menyenangkan.

Peran dan tujuan bermain ada bermacam-macam. Berikut beberpa teori klasik dan modern tentang tujuan dan peran bermain yang dikutip oleh Tedjasaputra (2005):

Tebel 1. Teori-teori klasik

Teori

Penggagas

Tujuan Bermain

Surplus energi

Schiller/Spencer

Mengeluarkan energi berlebih

Rekreasi

Lazarus

Memulihkan tenaga

Rekapitulasi

Hall

Memunculkan instink nenek moyang

Praktis

Gross

Menyempurnakan instink

 

Tabel 2. Teori-teori modern

Teori

Peran bermain dalam perkembangan anak

Psikoanalitik

Mengatasi pengalaman traumatik, coping terhadap frustrasi

Kognitif-Piaget

Mempraktekkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya

Kognitif-Vygotsky

Memajukan berpikir abstrak; belajar dalam kaitan ZPD; pengaturan diri

Kognitif-Bruner/Sutton-Smith

Memunculkan fleksibilitas perilaku dan berpikir; imajinasi dan narasi

Singer

Mengatur kecepatan stimulasi dari dalam dan dari luar

Teori-teori lain

Arousal Modulation

Tetap membuat anak terjaga pada tingkat optimal dengan menambah stimulasi

bateson

Memajukan kemampuan untuk memahami berbagai tingkatan makna

 

Melalui bermain anak dapat belajar banyak hal; sering disebut “bermain sambil belajar”. Mengapa bukan “belajar sambil bermain”? Karena yang pokok di sini adalah bermain. Di dalam bermain akan ditemukan pelajaran-pelajaran yang bermakna. Seperti dikatakan DePorter & Hernacki (2003), gaya belajar ada tiga, yaitu: auditorial (belajar dengan cara mendengar), visual (belajar dengan cara melihat), dan kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh). Bermain dapat merangkum ketiganya. Gaya belajar apapun yang dimiliki anak, anak dapat memperoleh pengetahuan dengan melakukan kegiatan bermain.

            Nasution (2003) berpendapat berbeda dengan DePorter & Hernacki (2003). Ia mengatakan bahwa gaya belajar atau learning style merupakan cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal. Dan gaya belajar ini terbagi menjadi tiga, yaitu: field dependence-field independence (ada yang dipengaruhi lingkungan dan ada yang tidak dipengaruhi lingkungan), impulsif-reflektif (ada yang mengambil keputusan dengan cepat tanpa memikirkannya secara mendalam dan ada yang mempertimbangkan segala alternatif sebelum mengambil keputusan dalam situasi yang tidak mempunyai penyelesaian yang mudah), dan preseptif/reseptif-sistematis/intuitif (ada yang menyaring informasi yang masuk serta memperhatikan hubungan-hubungan diantaranya dan ada yang lebih memperhatikan detail atau perincian informasi serta tidak berusaha untuk membulatkan atau mempertalikan informasi yang satu dengan yang lain; ada yang mencoba melihat struktur suatu masalah serta bekerja sistematis dengan data atau informasi untuk memecahkan suatu persoalan dan ada yang langsung mengemukakan jawaban tertentu tanpa menggunakan informasi secara sistematis).

            Walaupun dua pendapat di atas berbeda, namun semuanya merupakan gaya belajar, dan semua gaya belajar tersebut dapat ter-cover dalam kegiatan bermain. Dengan gaya belajar yang berbeda-beda anak tetap dapat belajar bersama dalam kegiatan bermain. Dengan demikian perkembangan sosial emosi anak dapat berkembang pula.

Mengapa bermain dapat mengembangkan anak secara menyeluruh? Bermain begitu menyenangkan dan dapat menampung aspirasi anak. Apapun gaya belajar anak, dapat ter-cover di sini. Dengan kata lain, bermain merupakan kebutuhan anak karena anak memang hidup dalam masa bermain. Kemudian kita dapat mencermati kriteria pemilihan strategi pembelajaran.

           Menurut Mulyani (2000), kriteria strategi pembelajaran ada tiga, yaitu: efektivitas, efisiensi, dan keterlibatan siswa. Efetivitas dan efisiensi bermain dapat dilihat dari outputnya. Melalui bermain anak dapat berkembang baik aspek maupun kecerdasannya. Dalam satu kegiatan bermain, ada beberapa aspek ataupun beberapa kecerdasan anak yang berkembang. Menurut Kurikulum 2004 (KBK), aspek yang dimaksud adalah aspek kemampuan dasar (bahasa, daya pikir, daya cipta, fisik/jasmani, dan keterampilan) dan aspek pembiasaan (perilaku, moral, pancasila, dan disiplin).

           Sedangkan menurut Gardner dalam Suparno (2004), kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan jamak atau kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang terdiri dari keceerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan ruang-visual, kecerdasan kinestetik-badani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan lingkungan (natural), dan kecerdasan eksistensial.

           Keterlibatan siswa yang dimaksud dalam bermain adalah keikutsertaan anak dalam bermain. Dalam kegiatan bermain, tentu anak itu sendiri yang aktive. Ia akan bersenang-senang dan belajar bersama teman-temannya. Anak benar-benar terlibat di dalamnya. Berikut merupakan gambaran keterlibatan anak dalam kegiatan bermain. Jika anak melakukan kesalahan dalam kegiatan bermain tersebut, anak akan menanggung sendiri akibatnya (di sini anak belajar bertanggung jawab); begitu pula sebaiknya bila anak mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dalam kegiatan bermain (misal menang dalam suatu permainan), anak akan belajar menerima haknya). Gambaran di atas dapat dijadikan salah satu contoh manfaat bermain. Ada banyak manfaat lain yang dapat diperoleh anak melalui kegiatan bermain.

 

PENUTUP

            Masa golden age adalah masa penting bagi anak di mana masa ini merupakan awal dari perkembangan masa-masa selanjutnya. Jika perkembangan awal terhambat maka akan menghambat perkembangan selanjutnya, begitu pula sebaliknya. Untuk itu, masa ini perlu perhatian khusus yaitu dengan tidak mengenyampingkan karakter anak yang sesungguhnya, yaitu bermain.

            Kegiatan bermai ternyata mampu menstimulasi perkembangan anak. Dengan satu kegiatan bermain, ternyata dapat mengembangkan beberapa aspek serta beberapa kecerdasan yang ada pada diri anak. Seharusnyalah pemerhati dan praktisi pendidikan anak usia dini memperhatikan hal ini demi tercapainya cita-cita bangsa menghasilkan insan yang berilmupengetahuan dan bermartabat.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.